Langsung ke konten utama

Postingan

Sigaret

Ada yang memaksa kita bersidekap, diantara malam yang semakin membekap. setiap nyala dari satu puntung , adalah sebuah sem angat dari jiwa - jiwa yang terasa buntung .         Senyum itu tersungging penuh singgung , bersama an hembusan asa p sigaret yang menguak bersama sesak.  Setia p sen ti puntung rokok adalah sebuah nafas yang telah lelah mencari celah . Puntung roko k favorit da ri warung yang irit ,   menja di potret yang tak pernah berhenti berdalih, atas apa yang selama ini telah kau pilih. sigaret itu tak pernah terasa habis, meski oksigen yang kau hirup menipis, meski racunnya meras uk lebih dalam, kita sama - sama menjadi pasif dalam diam. asap dan abu dari sigaret tak pernah luput dari suatu penat, hingga menyulut banyak debat . tapi semuanya mas ih sama - sama memegang puntung rokoknya, masih mendamba harapan, meski terlahir dalam penderitaan. tapi semuanya percaya, semesta pandai memaafkan d...

Penikmat lara

Rindu itu kembali membelenggu jiwa - jiwa yang tandu. Sudah bosan diterpa omong kosong penantian, bersemayam di ujung malam, hingga hanya air mata yang membungkam. Di ujung cakrawala, dua manusia bersendau gurau mengingat mimpi selagi bersimpuh janji. terdengar manis, atau bahkan miris. dua manusia yang sama - sama sedang mengarang cerita, cerita dengan suka tanpa duka untuk mewujudkan asa. keduanya tersenyum sembari seringkali terkekeh. entah karena tidak juga saling ngeh, atau memang sedah ada yang eh. sementara itu, penikmat lara sedang duduk bersila di sebrang dua manusia. sambil terus menghidupkan puntung rokok dengan stok satu slop. terdengar gila? sama sekali tidak. penikmat lara tau, dua manusia itu belum saatnya jatuh. penikmat lara tau, dua manusia itu belum berjalan jauh. penikmat lara tau, dua manusia itu hanya sedang berteduh. berteduh dari embel - embel perasaan terenyuh. hidup dua manusia itu berkisar dari peredaran asap rokok penikmat lara. hi...

Surat Yang Tak Pernah Sampai

(Dikutip dari Filosofi Kopi, Dee Lestari dengan beberapa penggubahan) Suratmu itu tak akan pernah terkirim, karena sebenarnya itu hanya keinginan berilusi untuk berbicara pada dirimu sendiri.  Kamu hanya ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi sebelas tangkai sedap malam yang kamu beli dari tukang bunga berwajah memelas, dengan nyamuk-nyamuk yang mencari makan, dengan malam, atau bahkan dengan detik jam yang seakan tak ingin menggeser rotasinya. Semuanya tentang dia. Dia, yang tidak pernah kamu mengerti.  Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta. Sebelah darimu menginginkan agar dia datang,  membencimu hingga muak dan membuatnya mendekati gila,  menertawakan segala kebodohannya,  kekhilafannya untuk sampai jatuh hati padamu,  menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kalian berjumpa.  Akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisannya- dari mulai nota sebaris sampai...

b u n g k a m

Bungkam itu perlahan menyeruak dari sanubari. Jemari itu tak se luwes biasanya, perlahan terasa kaku. Jiwa itu tak setenang biasanya, perlahan terasa terbelenggu. Senyum itu tak selepas biasanya, perlahan terasa kelabu. Seakan lengah menyibak tirai - tirai dari jendela kehidupan yang kelamaan terasa membosankan.  Rasa hambar yang muncul ketika kau coba menyibaknya. Bukankah, selama ini kamu yang saya kenal, atau saya yang kamu kenal sama - sama mengerti apa yang terjadi? Lantas, apa yang salah? Jarum jam masih terus berputar ke arah kanan. Bukan lagi soal menghitung detik yang teracuhkan, menit yang terabaikan, bahkan hitungan jam, hari, bulan, dan tahun yang lama - lama terhempas kasar ke dalam kenangan. Kenangan yang seharusnya dapat kamu dan saya habiskan dengan senyum yang merekah diselingi tawa yang lepas hingga senja bahkan petang menjemput bersamaan. Kenangan yang seharusnya dapat kamu dan saya andai - andai dengan tersipu malu. Kenangan yang seharusnya da...

Rumah Tanpa Jendela

Kami adalah pemuda, yang menghirup udara pagi lalu menghempas raga dalam kasur empuk setiap petang menjemput. Menyerah tak berdaya, seakan mampu menjadi pemberdaya. Kami bermukim dalam rumah kecil, di sudut tak terjamah, oleh kebrutalan dunia. kami berlindung, menutup telinga rapat - rapat mengunci pintu rumah rapat - rapat. hanya boleh oksigen dan karbon dioksida yang merembet celah ventilasi tak boleh ada kata apalagi luka. Kami sama - sama menunggu senja. Di dalam goresan ufuk oranyenya kami mendoa. Tangan kami tak lagi mampu berpagutan, kami saling melepas beban, dalam rona sendu yang disuguh manis oleh senja. Di dalam rumah tanpa jendela, yang awalnya tak pernah bersua apalagi bertegur sapa. kami bercengkrama, merangkul rapuh kami bercanda, mengembalikan pondasi yang mulai lapuk kami bernyanyi, meredam gema - gema suara sirene tak berkehendak. Kami menjejakkan kaki di pantai sembari berlari, menghalau mentari di ufuk timur. bekas jejak langkah kak...

Hai, Pemuda!

Keluarlah, wahai pemuda! Jejakmu kini telah tercium Namun semangatmu mendadak terkulum terhempas tak manis di kurikulum. Sekali lagi, Pemuda! Apa kau tak mendengar? jeritan kepedihan yang menggelegar? dari kalangan yang gulung tikar. Hai, Pemuda! Jeritan rakyat kecil yang meronta kembali berteriak mengintai kata yang membesit debu di pelupuk mata. Pemuda dan He, Pemuda! Tuli, kau? Bisu, kau? Bungkam saja terus hingga hatimu luluh tergerus Dimana, Engkau? Menunggu dalam gubugmu diam terbelenggu dari intaian tuntutanmu membasuh diri dalam sendu.

Senandung Senja

Mentari mengindik malu, menghempas penatnya di peraduan manis bernama cakrawala. Sang Gadis kembali mencari inspirasi namun tak ingin berfantasi. Senja bersenandung teduh, hati berlapis baja mulai luluh, menepis rapuh, seakan takut kembali terjatuh. Apakah mimpi ini terlalu tinggi? Apakah angan ini terlalu jauh? Apakah harapan ini terlalu berlebihan? Apakah khayalan ini terlalu fatamorgana? Atau Apakah disini lupa bagaimana mencatat impian? Apakah disini lupa bagaimana membuat angan? Apakah disini lupa bagaimana cara harapan bekerja? Apakah disini lupa bagaimana fatamorgana identik dengan khayalan? Terlalu banyak keluhan! Lantas, apa tak ada yang berjuang? Mengubah keluhan menjadi senandung? Bukankah begitu cara hidup bekerja?