Langsung ke konten utama

Sepucuk Surat Sahabat


dijejak rindu,
dirantai waktu,
kita sama-sama tidak tau.

kupengang erat foto kita dulu.
hanya ini yang tersisa darimu.
aku selalu tersenyum konyol, begitu juga kamu.
kita tak pernah terlihat normal, begitu celetukku.

tawa kita selalu sama.
obrolan kita selalu senada.
garis impian kita selalu berbeda.
begitukah kita?

kamu pernah mantap berkata,
kita ini adalah satu jiwa,
yang menyimpan cita, cinta, dan asa, seperti doa.
begitukah kita?

suatu ketika,
ruang dimana kita menghabiskan waktu bersama,
terasa begitu hampa.
nyaris seperti tak ada sisa.

aku memandangi ruangan itu berkali-kali.
aku rutin berkunjung ruangan itu berkali-kali.
berharap kamu juga melakukan itu berkali-kali.
tapi aku tak pernah mendapati jawaban.
dimana hilangnya kenangan?

sesekali kukirim pesan,
kepada jemari-jemari Tuhan.
aku iseng menunggu balasan,
tapi kamu terdiam dengan kesibukkan.

aku senang melihatmu baik, lebih baik, dan selalu baik-baik.
aku senang mencerca tawamu,
berharap kamu datang memelukku,
atau sekedar mengajak kita bertemu.
salam rindu dariku,
sahabatmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebentar

Aku bilang tunggu sebentar. Kita sedang tak saling mengejar. Kita juga tak sedang asik berkelakar. Katamu kau tak suka sesumbar. Begitu urusanmu dan minuman di bar. Atau tentang mengapa matamu selalu berbinar. Kau juga tak suka hingar bingar. Tak peduli dengan berita yang tersebar. Atau karena pasangan yang baru saja bubar. Lalu aku sibuk merapal ikrar, di tengah pulau dan terdampar. Cinta ini kau bilang harus dibayar. Dengan setengah mendesak dan tak sabar. Aku bilang tunggu sebentar. Kamu dan fantasimu yang liar. Namun jauh dari caraku bernalar. Begitu pula pandanganku membuyar.

Candu

Source : Pinterest siapa yang jadi candu di sela malam menuju minggu, ditemani seduhan kopi kesukaanmu, lirik lagu sendu yang semakin syahdu, saat kamu nyanyikan bersama idolamu, atau karena ada seseorang berdiri di sebelahmu. aku atau kamu tidak ada yang pernah tau. kata - kata yang terbesit di benakku, adalah caraku mengabadikan bayangmu. meski potrait foto nuansa abu-abu, hasil tangkapan dari lensa kameramu. juga tercipta tanpa malu-malu dan ragu. pelan pelan ku simpan senyummu, di dalam tas selempang buluk favoritku, kuambil dari persimpangan dan redupnya lampu. lalu ku tulis satu bait kalimat dalam buku harianku. setidaknya nanti ada yang bisa menjelaskan untukmu : waktu. pukul satu pagi, seseorang yang datang tanpa permisi, tanpa ucapan selamat tinggal baru saja pergi, meski hanya bayang-bayang yang mengisi, tak ada yang berhak mengungkitnya kembali. meski ufuk timur menyeruak dengan aroma pagi yang dibalas dengan pahitnya ...

Cerita

ada beberapa peristiwa, yang terjadi setiap harinya. lalu aku akan mulai bercerita, tentang rasa yang dulu pernah ada, tentang mimpi yang mendekati gila, tentang orang yang baru saja tiada, tentang kisah yang tak masuk logika, tentang ricuhnya menjadi kepala dua, tentang yang sedang terjadi di dunia, tentang beberapa berita di layar kaca, tentang kedai kopi yang baru saja buka, tentang hal yang berkeliaran di kepala, tentang berbagai momen di sosial media, tentang drama yang dibuat pasangan muda, tentang berbagai hal yang tak baik-baik saja. tidak ada definisi dimana batasnya. mungkin aku justru akan membagi luka, dan terbelahlah menjadi dua sama rata. tapi setidaknya aku selalu merasa lega. waktu berjalan tak seperti biasa, ia sedikit meregang durasi nyawa, agar kita bisa punya banyak makna. begitulah, senantiasa. bukan perkara jatuh cinta. bukan perkara suka dan duka, bukan perkara tawa juga luka, bukan juga tentang tanda tanya, bukan juga bag...